Investasi Masa Depan, Pemprov Malut Wajibkan Seluruh Daerah Susun Strategi Lokal Tangani ATM




RP/I/28.07.2026/PROVMALUT

#Investasi Masa Depan, Pemprov Malut Wajibkan Seluruh Daerah Susun Strategi Lokal Tangani ATM#

TERNATE — Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, Abdullah Assagaf, mewakili Gubernur Maluku Utara, secara resmi membuka Workshop AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria (ATM) Tingkat Provinsi Maluku Utara Tahun 2026. Kegiatan ini berlangsung di Hotel Boulevard pada Selasa (28/7/2026).

Dalam sambutan tertulis Gubernur yang dibacakan oleh Abdullah Assagaf, ditegaskan bahwa pembangunan kesehatan merupakan investasi jangka panjang yang krusial untuk menentukan kualitas sumber daya manusia (SDM)

Masyarakat yang sehat secara langsung akan meningkatkan produktivitas dan kontribusi dalam pembangunan daerah. Namun, Maluku Utara masih menghadapi tantangan kesehatan serius yang memerlukan penanganan khusus:

  • Tuberkulosis: Menjadi salah satu penyebab utama kematian akibat penyakit menular.
  • HIV/AIDS: Menghadapi kendala dalam penemuan kasus baru dan kepatuhan pengobatan pasien.
  • Malaria: Masih menjadi perhatian khusus di wilayah dengan karakteristik geografis tertentu.

"Workshop ini harus melahirkan komitmen bersama dalam implementasi nyata di lapangan. Setiap kabupaten dan kota wajib menerjemahkan kebijakan ini ke dalam langkah strategis yang sesuai dengan kondisi wilayah masing-masing," ujar Abdullah.

Gubernur juga menginstruksikan tenaga kesehatan untuk memperkuat aspek edukasi, pencegahan, deteksi dini, serta pendampingan pasien, selain melakukan pengobatan. Keberhasilan program ini membutuhkan dukungan masif dari pemerintah daerah, dunia pendidikan, organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, media, dan masyarakat luas.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Dinas Kesehatan Seluruh Indonesia (ADINKES) Perwakilan Maluku Utara, dr. Fathiyah Suma, melaporkan bahwa ATM masih menjadi isu kesehatan global dengan beban sosial dan ekonomi yang besar. Hingga tahun 2026, situasi penularan penyakit ATM di Provinsi Maluku Utara tercatat sebagai berikut:

  • Tuberkulosis: Estimasi beban mencapai 4.903 kasus.
  • HIV/AIDS: Akumulasi kasus secara kumulatif mencapai 3.657 kasus.
  • Malaria: Terlaporkan sebanyak 474 kasus positif.

"Dari total 10 kabupaten/kota di Maluku Utara, sebanyak 7 daerah telah mencapai status eliminasi malaria, sementara 3 daerah lainnya masih dalam proses menuju eliminasi," ujarnya.

dr. Fathiyah Suma menekankan bahwa target eliminasi ATM pada tahun 2030 hanya bisa dicapai melalui intervensi berbasis bukti yang terencana dan terintegrasi. Upaya pengendalian ini harus diselaraskan dengan pemenuhan kebutuhan sosial dasar, perbaikan kualitas lingkungan, dan perluasan akses layanan kesehatan.

Untuk menjamin keberlanjutan program dan penguatan Resilient and Sustainable System for Health (RSSH), pemerintah daerah memerlukan panduan yang jelas. Langkah ini penting untuk mengintegrasikan program dan penganggaran ATM ke dalam dokumen perencanaan pembangunan serta dokumen keuangan daerah. Integrasi tersebut akan memastikan efektivitas belanja daerah yang selaras dengan prioritas pembangunan nasional," pungkasnya. (Adpim/Malut)

Dokumentasi kegiatan klik di sini.